EVOLUSI SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Telaah
Peta Filsafat, Ideologi, dan Paradigma Dunia dari buku Paul Ernest “The
Philosophy of Mathematics Education”
Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Disusun oleh: Kintan Limiansi (S3 PEP Angkatan 2021/ Kelas A/ 21701261017)
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi berpengaruh terhadap perkembangan sistem pendidikan
di dunia. Seperti ilustrasi di bawah ini, perkembangan teknologi mengubah cara
manusia dalam menyelesaikan suatu persoalan. Dahulu manusia memotong
menggunakan batu dengan hasil seadanya, saat ini manusia dapat menciptakan
teknologi pemotong yang terkomputerisasi sehingga hasilnya lebih rapi mengikuti
pola yang dikehendaki.
Pendidikan merupakan cara yang manusia tempuh untuk mempelajari
persoalan yang muncul dan berupaya mencari solusinya. Pendidikan tersebut akan
berkembang seiring perkembangan IPTEK. Semakin maju IPTEK, sistem pendidikan
cenderung lebih terbuka, berpusat pada peserta didik, dan demokratis.
Perkembangan sistem pendidikan membentuk 5 ideologi dalam pendidikan seperti
yang dirangkum oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A dalam satu tabel.
Dalam buku “The Philosophy of Mathematics Education” pada halaman 132 dijelaskan bahwa Insdustrial trainer (pelatih industri) mempengaruhi sistem pendidikan di Inggris pada abad ke-19. Pelatih industry ini merupakan kelas pedagang dan manajer industry. Tujuan dari pendidikan ini dahulu berkaitan dengan pelatihan tenaga kerja yang cocok. Memberdayakan kelas pekerja untuk dapat lebih bermanfaat bagi lembaga dan masyarakat. Nilai moral yang terkandung pada model pendidikan ini adalah baik dan buruk. Baik jika sudah sesuai prosedur, dan buruk jika tidak sesuai dengan prosedur. Pembelajaran dikemas dengan mengkondisikan peserta didik belajar keras untuk mengingat materi dan konsep selanjutnya mereka harus menghadapi tes di akhir untuk menentukan peserta didik tersebut lulus atau tidak dalam menempuh suatu jenjang. Pendidik menjelaskan di depan kelas, menuliskan hal-hal penting lalu peserta didik diam memperhatikan dan mencatat apa yang disampaikan pendidik. Sistem pendidikan seperti ini pernah dilaksanakan di Indonesia. Guru mengajarkan materi di depan kelas, siswa mendengarkan dan mencatat. Bahkan guru tidak sungkan menghardik jika ada siswa yang tidak memperhatikan atau tidak bisa menjawab pertanyaan dari guru. Sekolah dibedakan menurut kelas sehingga menganut monokulturisme. Di akhir setiap jenjang dilaksanakan ujian akhir nasional yang nilainya digunakan untuk menentukan seseorang lulus atau tidak.
Ideologi technological pragmatism ini hampir mirip dengan industrial trainer. Namun bedanya kelompok yang menganut ideologi technological pragmatism ini mengutamakan berkemangnya keterampilan teknologi informasi, komunikasi, pemecahan masalah, serta penguasaan hal-hal mendasar. Hal ini terlihat pada teori belajarnya yaitu thinkin and practicing. Penting bagi peserta didik untuk dapat berpikir menguasai hal-hal dasar dan dapat mempraktikannya. Tujuan dari pendidikan adalah sertifikasi, peserta didik yang lolos akan mendapatkan sertifikat yang memnyatakan bahwa mereka telah menguasai hal dasar dan termpil terkait bidang tersebut. Sistem pembelajaran seperti ini penting diterapkan untuk pelatihan teknis, misalnya pelatihan perakitan mesin mobil. Instruktur akan menjelaskan, menunjukkan, dan mendemonstrasikan hal yang penting dan peserta didik memperhatikan. Selanjutnya peserta didik dites penguasaan konsepnya. Jika peserta didik memperhatikan pelatihan, mengikuti semua kegiatan, mengetahui hal-hal penting melalui belajar maka ia akan memiliki keterampilan sehingga saat tes akan lolos dan mendapat sertifikat sebagai perakit mesin mobil. Namun jika hasil tes tidak memenuhi standar tertentu, maka peserta didik tersebut tidak akan lolos dan harus mengulang untuk mengikuti pelatihan. Contoh lain sistem pendidikan yang menerapkan ideologi ini adalah pelatihan bahasa. Peserta didik diarahkan untuk menguasai konsep kebahasaan yang tepat dan dapat mempraktikkannya. Selanjutnya peserta didik dites dan hasilnya berupa skor tertentu. Jika skor tersebut memenuhi standar maka peserta didik akan mendapatkan sertifikat dengan skor tertulis di dalamnya.
Old Humanisme
Ideologi ini diterapkan pada kondisi politik yang konservatif atau juga liberal. Pengetahuan merupakan struktur dari kepercayaan. Ideologi ini membentuk karakter dari peserta didiknya. Tujuan dari pendidikan pada ideologi ini adalah mentransfer pengetauan. Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan sehingga peserta didik dapat mengetahui dan memahami suatu keilmuan serta dapat mengaplikasikannya. Pendidik menyajikan sumber belajar visual sehingga lebih mudah dan menarik dipahami oleh peserta didik. Di akhir pembelajaran dilakukan tes untuk mengetahui lulus tidaknya seorang peserta didik. Kurikulum dikembangkan dengan basis kompetensi, jadi setelah lulus peserta didik diharapkan memiliki kompetensi sesuai yang telah ditargetkan pada kurikulum. Indonesia pernah menerapkan ideologi ini dalam sistem pendidikan, yaitu ketika diterapkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk jenjang sekolah. Pemerintah menetapkan kompetensi-kompetensi dasar yang minimal harus dapat dicapai peserta didik di setiap jenjang. Peserta didik dikatakan lulus dan mampu melanjutkan pendidikan di jenjang berikutnya jika telah menguasai kompetensi minimal tersebut. Penguasaan kompetensi minimal ini dilihat melalui tes yang dilakukan di akhir pembelajaran yaitu Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Akhir Nasional (UAN).
Progressive Educator
Semakin berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi, semakin berkembang pula ideologi dalam pendidikan
mengarah pada kebebasan belajar. Progresif educator ini merupakan ideologi yang
biasanya diterapkan pada negara-negara liberal. Pengetahuan atau ilmu merupakan
hasil dari proses berpikir. Pembelajaran berpusat pada peserta didik, sehingga
dilakukan berdasarkan kebutuhan peserta didik. Tujuan pendidikan menurut
ideologi ini adalah meningkatkan kreatifitas peserta didik melalui pembelajaran
yang berbasis eksplorasi. Sumber belajar yang digunakan pun beragam, tidak
hanya satu sumber, termasuk lingkungan juga dijadikan sumber belajar. Penilaian
akhir bukan berasal dari tes akhir pembelajaran, namun portofolio yang
merupakan dokumen hasil belajar peserta didik selama periode mengikuti
pendidikan. Sistem pendidikan pada ideologi progressive educator ini mencerminkan
student centered learning.
Kurikulum Merdeka Belajar yang
diterapkan di Indonesia saat ini telah mengadaptasi ideologi ini. Pembelajaran
saat ini diarahkan untuk berorientasi pada pembelajaran
berbasis project (team-based
project) dan case method. Peserta didik diarahkan untuk belajar
mengeksplor lingkungan sekitarnya dan memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
Nilai akhir peserta didik bukan ditentukan dari nilai Ujian Akhir Nasional
namun dari serangkaian proses belajar mereka. Pemerintah mengganti Ujian Akhir
Nasional dengan Assessment Kompetensi Minimum (AKM) dimana tujuannya adalah
untuk melihat ketercapaian kompetensi minimal dari peserta didik, khususnya
dalam hal literasi dan numerasi. Skor dari AKM ini bukan menjadi penentu kelulusan
di suatu jenjang pendidikan. Dengan sistem pembelajaran seperti ini harapannya
peserta didik dapat bebas belajar mengembangkan diri dan kreatifitasnya sesuai
bidang yang diminatinya tanpa harus terpaku pada penguasaan semua kompetensi
demi mencapai kelulusan yang ditentukan melalui UAN. Namun dengan tidak adanya
UAN ini justru menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pendidikan.
Peserta didik dapat menjadi kurang serius dalam belajar karena tidak ada
tuntutan di akhir pendidikan.
Pemerintah memberi keleluasaan
mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan diri di luar bidang yang digelutinya
sehingga memiliki bekal dan kompetensi yang lebih ketika lulus. Program-program
telah diluncurkan untuk memfasilitasi mahasiswa belajar di luar kampus selama 3
semester, antara lain studi/proyek independen, kampus mengajar (asistensi
mengajar di satuan pendidikan), magang, KKN Tematik, riset, proyek kemanusiaan.
Harapannya selama kuliah mahasiswa dapat memiliki pengalaman dan gambaran
terkait pengambangan bidang yang diminatinya, membentuk jaringan komunikasi
dengan mitra, memiliki keterampilan bersosialisasi, sehingga setelah lulus
dapat langsung bekerja. Walaupun kurikulum ini berdampak sangat positif bagi
mahasiswa, namun dalam pelaksanaannya tak lepas dari tantangan. Kesulitan
administrasi dan pengembangan sistem di awal penerapan MBKM ini menjadi
tantangan yang harus dihadapi setiap program studi yang menerapkan kurikulum MBKM.
Perlu kerja keras dari program studi, bersinergi dengan fakultas maupun
universitas sehingga tujuan kurikulum yang baik ini dapat dicapai oleh
mahasiswa.
Komentar
Posting Komentar